Quo
Vadis
Banyak
sekali dijumpai para pelajar dan mahasiswa yang merasa menyesal dengan sekolah,
universitas, dan jurusan yang sudah dipilihnya. Para pelajar atau mahasiswa
tersebut menyesal karena sekolah atau universitas yang dipilihnya ternyata
tidak sesuai dengan keinginan dan harapannya. Hal ini terjadi karena pada masa
pemilihan sekolah atau universitas para pelajar hanya mengikuti arus dimana
teman-temannya masuk dan mendaftar ke suatu universitas tertentu tanpa
memperhitungkan secara cermat faktor atau hal-hal yang penting dalam memilih
tempat pendidikan lanjutan. Memang pada awalnya pelajar tersebut akan
berpikiran bahwa dengan masuk dan mendaftar ke sekolah atau universitas
tertentu yang banyak diminati teman-temannya akan menguntungkan dirinya dalam
beradaptasi dengan lingkungan pendidikan yang baru, tidak akan kesulitan dalam
mencari teman dan sudah pasti ada yang membantu karena sudah ada yang dikenal. Namun
seiring berjalannya waktu, pelajar tersebut akan merasa kesulitan apabila
sekolah, universitas atau jurusan yang dipilihnya ternyata tidak sesuai dengan
bakat dan minat pelajar tersebut, ia akan merasa sangat kesulitan mengikuti
ritme pembelajaran ditempat itu. Apabila hal yang demikian sudah terjadi maka
kemungkinan besar pelajar atau mahaiswa tersebut akan mengundurkan diri atau
memilih untuk pindah ke jurusan yang diminati dan sesuai dengan bakat dan
minatnya.
Kasus
seperti tertulis diatas seringkali kita jumpai disekitar kita, atau bahkan kita
alami sendiri. Kasus semacam itu dapat dicegah melalui peran serta barbagai
pihak. Dalam hal ini peran guru, khususnya guru bimbingan dan konseling dapat
dimaksimalkan untuk memberikan layanan informasi. Memberikan berbagai informasi
menyangkut berbagai universitas dan jurusan-jurusan yang ada. Guru juga dapat
memberi informasi tentang jurusan yang sesuai dengan bakat dan minat siswa. Selain
itu, peran serta orang tua juga menjadi salah satu faktor yang sangat
menentukan pemilihan sekolah, universitas atau jurusan yang akan dipilih siswa.
Tidak sedikit orang tua yang memiliki sifat otoriter (Commando Parents)[1],
dimana siswa harus taat dan tunduk terhadap apa kemauan orang tua. Tipe orang
tua seperti ini seringkali mengabaikan bakat dan minat yang dimiliki anaknya. Sebagai
contoh seorang siswa yang kurang berminat dalam mata pelajaran kimia, fisika
dan biologi dipaksa masuk ke jurusan ipa karena orang tua siswa tersebut ingin
anaknya kelak bekerja sebagai dokter, padahal siswa tersebut memiliki
ketertarikan dan bakat dalam sastra dan ingin masuk ke jurusan bahasa. Dalam praktiknya
siswa itu mungkin dapan memenuhi standar nilai yang ditetapkan, namun siswa itu
belum tentu mengerti apa yang dipelajarinya, karena siswa tersebut belajar
berdasarkan ketakutaan dengan orang tuanya. Akan berbeda dengan orang tua yang
memahami apa bakat minat cita-cita yang dimiliki anaknya, walaupun orang tua
siswa tersebut berkeinginan anaknya kelak bekerja sebagai pengacara atau hakim,
namun orang tua siswa tersebut melihat baahwa anaknya memiliki bakat dan
ketertarikan dalam dunia mengajar, maka orang tua tersebut akan menyarankan
anaknya agar masuk ke universitas yang memiliki fakultas keguruan dan ilmu
pendidikan. Apabila hal ini terjadi maka anak tersebut tidak akan merasa
tertekan dalam belajar, dapat menikmati proses pembelajaran yang dilaluinya,
merasa bahwa orang tuanya memperhatikan dirinya dan yang paling penting anak
itu akan menjadi lulusan yang benar-benar memiliki ilmu pada disiplin ilmu yang
dipilihnya dan berdedikasi terhadap pekerjaannya. Maka agar siswa tidak salah dalam memilih jurusan, sekolah atau universitas maka diperlukan peran serta guru dan orangtua, haruslah terjadi sebuah keharmonisan hubungan antara anak dan orang tua. Orang tua memberi kebebasan yang bertanggung jawab terhadap pilihan anak mengenai jurusan, sekolah atau universitas sesuai bakat dan keinginannya, sehingga dalam hal belajar anak mendapatkan rasa nyaman tanpa ada tekanan dan tuntutan yang terlalu berat dari orang tua, dan kelak anak pun juga dapat bekerja sesuai dengan keinginan dan bakatnya.
[1] tipe
pemegang kendali semua aktivitas anak-anak mereka. Mereka akan meberikan
berbagai macam peraturan yang harus dipatuhi oleh anak-anak mereka, dan tidak
membiarkan mereka melakukan kesalahan. Alasan utama perilaku tipe orang tua
ini, adalah agar anak mereka menjadi pribadi yang bertanggung jawab. Inilah
tipe orang tua otoriter sejati, yang membatasi ruang gerak anak mereka, baik
dalam tindakan maupun berpendapat.
Ditulis oleh : Yudha Satria Utama
